Kanker Menghadang Langkahku

Aku kaget dan shok, karena tidak mengira Aku mengidap penyakit yang berat. Dunia terasa gelap, dan nafasku terasa sesak. Ya ..Tuhan, cobaan apalagi yang akan kau berikan kepadaku. Rasanya selama ini hidupku sudah amat susah. Kini engkau berikan cobaan yang teramat berat.

Ya Tuhan, bagaimana mungkin Aku bisa mengobati penyakitku ini. Untuk makan saja, kadang kami kesulitan. Apalagi belum memikirkan biaya anak – anakku  sekolah. Apalagi suamiku hanya seorang kuli bangunan.

Pekerjaan suamiku, tidak pasti. Kadang ada kadang tidak ada. Bahkan pernah dua bulan sama sekali tidak ada kerjaan. Suamiku sendiri kini membutuhkan biaya untuk berobat. Salah satu matanya sakit.

Mesin jahit ini, kini menjadi dewa penolong bagiku. Mesin ini pemberian seorang teman, yang mungkin merasa iba melihat penderitaan kami. Apalagi setelah Aku menderita penyakit berat.

Dengan mesin jahit ini, Aku bisa mendapatkan uang, sebagai  tukang servis pakaian. Lumayan walau hanya cukup untuk membeli 1 liter beras. Untuk memperbaiki satu potong pakaian, Aku bisa mendapatkan 3 hingga 5 ribu rupiah.

Saat ini, yang penting aku bisa mendapatkan uang untuk makan sehari – hari. Penyakitku teramat berat untuk Aku lawan. Aku hanya bisa pasrah, sambil berdoa. Mudah – mudahan ada rezeki, sehingga Aku bisa mengobati penyakit yang menggerogoti payudaraku ini.

Suamiku bernama Rohman, lelaki asal Cirebon, Jawa Barat, usianya sudah 55 tahun. Aku menikah dengan Rohman tahun 87 lalu. Dari hasil perkawinanku denga  Rohman,  Aku dikarunia 3 orang anak. Yang paling kecil sudah duduk dikelas 2 Sekolah Menengah Pertama. Pertemuanku dengan suamiku, karena Aku dijodohkan.

Sebelum nikah denganku, suamiku bekerja di perkebunan karet dan pabrik gula di Cirebon. Yang Aku rasakan, sejak Aku menikah, selalu saja cobaan silih berganti menghampiri keluargaku.

Bahkan selama ini, Aku belum pernah merasakan bagaimana sebuah kebahagiaan hidup, tanpa kesulitan memikirkan kebutuhan hidup sehari – hari. Tapi Aku rela dan tabah menerima segala cobaan ini.

Selama hidup bersama dengan suamiku, Aku tinggal di rumah kontrakan. Setelah pindah sana pindah sini, sekarang kami  tinggal di rumah kontrakan di Jalan Tanah Seratus, Kelurahan Sudimarajaya, Tangerang, Banten.

Tempat yang Kutinggali bersama anak dan suamiku ini, Aku sewa 250 ribu rupiah per bulannya. Aku masih bisa bersyukur, anak – anakku sangat giat belajar. Anakku nomer 2 namanya Mega, dia rela berangkat ke sekolah yang jaraknya lebih dari 10 kilometer,  membawa sepeda butut, pinjaman dari temannya.

Mega tidak merasa minder dengan teman – temannya, karena dia sadar orang tuanya tidak mampu. Dengan kondisi ini, Aku pantang mengeluh dan putus asa. Aku masih percaya, karena Tuhan sedang menguji imanku. Rejeki, jodoh dan maut, adalah kehendaknya. Aku percaya semua itu.

Tina, kini memang tengah menghadapi hari – hari yang berat. Jalan hidupnya tak pernah jauh dari cobaan. Bertahun – tahun hidupnya berada dalam kemiskinan. Dan kini Tina harus melawan penyakit kanker payudara.

Tina tak pernah membayangkan, akan menderita penyakit yang berat dan ganas. Tapi penyakit memang datang tanpa diundang. Kini Tina hanya bisa pasrah menerima kenyataan, sambil terus berdoa, mudah – mudahan ada kekuatan, agar ia tak menyerah melawan penyakit di tubuhnya.

Darmin, adalah potret laki – laki yang tak gampang menyerah. Meski stroke telah melumpuhkan tangan dan kakinya, namun  ia berusaha keras suntuk bangkit. Darmin tak mau membuat repot orang lain, bahkan kepada anaknya sendiri.(Ijs)

Nara Sumber : Ibu Tina
Alamat  : Jalan Tanah Seratus Rt 03/ Rw 06 No. 37
Kel. Sudimarajaya, Tangerang, Banten
Kontak  : Mega ( 021 ) 923 79239

Advertisement
This entry was posted in Informasi. Bookmark the permalink.